Jurnal Maritim | 28 Januari 2015

Indonesia adalah negara kepulauan dengan laut menjadi penghubung antar pulau. Angkutan laut memegang peran vital dalam berbagai kegiatan, terutama perekonomian. Kapal menjadi kendaraan yang paling reliable untuk menjembatani banyaknya pulau-pulau yang ada Indonesia. Kapal digunakan untuk mengangkut berbagai muatan, termasuk diantaranya kontainer, kendaraan dan penumpang.

Saat ini setiap tahunnya, lebih dari 700jt ton pertahun muatan yang bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia, dan angka tersebut akan mencapai 1 Milyar ton muatan pertahun untuk seluruh pelabuhan di Indonesia. Semua di atas menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan aktivitas pelayaran dan kepelabuhanan tersibuk di dunia. Namun, besarnya volume angkutan di atas belum diimbangi dengan ketersediaan dan kapasitas pelabuhan.

Saat kapasitas belum bisa ditingkatkan, maka pilihan yang tersedia adalah meningkatkan kinerja. Yang paling mudah terlihat adalah kinerja bongkar-muat. Bongkar-muat adalah salah satu proses dalam rantai logistik yang melibatkan pelabuhan (terminal) dan kapal.

Salah satu bagian dari strategi peningkatan kinerja bongkar-muat adalah mengoptimalkan pemuatan yang akurat. Rencana pemuatan yang akurat tidak hanya menjamin stabilitas kapal, namun juga mempercepat proses bongkar muat dan meningkatkan jumlah muatan di atas kapal. Bahkan, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi jaringan, proses bongkar-muat kini dapat disinergikan dengan fungsi manajemen logistik lainnya, mulai dari pemasaran, perencanaan hingga operasional.

Selama ini perencanaan muatan, dalam istilah pelayaran disebut stowage Planning, dilakukan secara manual. Hasilnya adalah stowage plan, yaitu rencana muatan yang menjadi panduan bagi operator dalam proses bongkar-muat.

Stowage plan yang dikerjakan manual umumnya rawan kesalahan manusia (human error), penyebabnya dapat karena kelelahan, kurang konsentrasi, stress akibat tingginya ritme kerja, keengganan mengupdate data muatan, kesalahan membaca tabel, dan muatan yang tidak ditimbang.

Dampak dari kelalaian di atas berantai, dimulai dari kesalahan dalam perhitungan stabilitas, pemuatan tidak optimal sehingga muatan yang diangkut jauh lebih sedikit dibanding kapasitas yang tersedia hingga yang paling fatal adalah risiko keselamatan pelayaran.

Sudah banyak kasus kecelakaan kapal akibat stowage plan yang tidak akurat, karena dikerjakan secara manual. Misalnya, MV Cumbrian Express terbalik di Port of Rayong, Thailand pada awal tahun 2000. Kecelakaan ini akibat kesalahan perhitungan stabilitas pada saat pemuatan. Setelah diinvestigasi, ternyata Data berat peti kemas yang dimasukan dalam perhitungan berbeda dari dari berat peti kemas sesungguhnya.

Aplikasi Siap Pakai

Potret kegiatan pelayaran di atas menjadi dasar kehadiran aplikasi perencanaan tata muatan di atas kapal (stowage planning software) yang dikembangkan oleh Laboratorium Telematika pada Jurusan Transportasi Laut, FTK-ITS. Aplikasi buatan lokal ini diberi nama iStow.

Sejak dikembangkan pada tahun 2007, iStow direncanakan sebagai wujud konkret kontribusi penelitian perguruan tinggi bagi industri maritim nasional dan ASEAN. Penggunaan metodologi canggih, penyempurnaan kontinu dan benchmarking pada produk-produk serupa, iStow telah siap untuk berkompetisi dengan aplikasi impor sejenis. iStow versi pertama, didesain untuk kapal kontainer, sudah berhasil diterapkan pada kapal-kapal peti kemas milik sebuah perusahaan pelayaran nasional terkemuka.

Varian-varian iStow dikembangkan untuk berbagai jenis muatan di antaranya untuk kendaraan, dan muatan khusus ekstra besar. iStow-roro yang telah diimplementasikan pada kapal LCT Ketapang-Gilimanuk. iStow-LPH (iStow forlarge and heavy objects) yang dibuat untuk pemuatan muatan ekstra besar dan berat seperti pabrik atau konstruksi bangunan lepas pantai.

Di samping itu, sejalan dengan perkembangan peraturan internasional, seperti Manila Amendments to the STCW Convention and Code 2010, pendidikan kepelautan harus memastikan mutu pendidikannya melalui adopsi pelatihan berbasis komputer. iStow-CHS (Cargo Handling Simulator) telah berkontribusi dalam area ini, dan telah dipasang dan digunakan pada Politeknik Maritim Negeri Indonesia di Semarang.

iStow adalah aplikasi yang siap pakai karena dirancang sesuai dengan proses bisnis yang berlaku dalam operasional pelabuhan sehari-hari, terutama proses bongkar-muat. Berbasis arsitektur client-server sehingga bisa digunakan secara bersama-sama secara simultan.

Mengapa demikian? karena setiap kapal adalah unik, artinya memiliki spesifikasi tertentu yang berbeda antara kapal yang satu dengan yang lain. Data geometri, volume tanki, titik-titik berat komponen-komponen utama kapal merupakan variabel utama masukan (input) untuk iStow. Demikian juga dengan muatan, terutama jenis kontainer. Walau ukuran volumenya sama, berat setiap kontainer bisa berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Singkatnya, data masukan yang dibutuhkan untuk perhitungan stabilitas kapal dan penataan muatan di kapal, bisa bersumber dari banyak bagian atau proses yang lain.

Oleh karena itu, sejak awal iStow dirancang untuk mengakomodir kegiatan kolaborarif dan terintegrasi antar bagian dalam perusahaan seperti Container Yard Planning, Sistem Booking Muatan, Sistem Sales / Depo, Schedulling, Voyage Estimator, dan Mobile Computing.

Selain itu, iStow dapat beroperasi pada semua platform atau sistem operasi apapun (multi platform), diantaranya MS Windows, Linux, dan Macintosh. Ke depan, pihak ITS menyatakan sedang mengembangkan iStow untuk perangkat bergerak atau mobile devices seperti tablet dan smartphone.

Fitur iStow:

  • Perhitungan otomatis: stabilitas, sarat, trim, beban
  • Pengecekan terhadap regulasi IMO
  • Input data fleksibel
  • Dokumen siap cetak: bayplan, laporan stabilitas, manifest dan dokumen lain sesuai persyaratan penerbitan SPB
  • Terintegrasi
  • Kolaboratif
  • MultiPlatform

iStow menggunakan teknologi open source, mulai dari pemilihan server database hingga bahasa pemrograman. Begitu juga dengan laporan yang dihasilkan, format open document menjadi pilihan utama selain hasil akhir berupa file pdf. Pemilihan teknologi ini demi membebaskan pengguna dari beban akibat system requirement hingga lisensiproprietary yang dapat menghabiskan jutaan rupiah.

Semua di atas tidak mengurangi kualitas iStow, baik dari aspek teknik perkapalan dan transportasi laut, perhitungan stabilitas yang akurat, hingga dokumen siap pakai yang sesuai dengan kegiatan transportasi di Indonesia.

Sumber: http://jurnalmaritim.com/2015/01/istow-stowage-planning-software-buatan-indonesia/